[Review #3] : Surat untuk Ruth by Bernard Batubara

Saya belum sempat foto cover bukunya. Pinjem punya gugel aja ya ;p

Saya belum sempat foto cover bukunya. Pinjem punya gugel aja ya ;p

Mari kita bikin review (suka-suka) lagi. Kali ini buku yang akan saya review adalah sebuah novel terbaru tulisan Bernard Batubara judulnya Surat Untuk Ruth. Tulisan galau Bara yang kesekian.

Nah, saya mau cerita dulu gimana saya berhasil mendapatkan buku ini. FYI : saya dapat buku ini tepat saat peluncuran buku ini pertama kalinya di GPU Festival di JCC tanggal 5 April 2014 yang lalu. (Sebenernya langsung selesai baca keesokan harinya, tapi lagi-lagi karena kemalasan saya, yang udah tingkat apa nggak tau ini, saya baru bikin review-nya sekarang). Baiklah, lanjut lagi, jadi saya ikutan GPU Festival hari sabtu itu hanya karena ada Bara datang bersama 1000 eksemplar Surat Untuk Ruth yang sudah ditandatanganinya. Saya bela-belain datang dari rumah jam 7 pagi (sampe sana acara belum dimulai ._.) dan nungguin acaranya Bara yang padahal dimulai jam 3 sore. Alhasil, saya ikutan beberapa gathering dengan penulis-penulis kece lainnya. Waktu saya lagi duduk manis ikutan gathering-nya Ika Natassa, saya lihat seorang cowok berdiri di kejauhan, memakai kemeja biru muda super kece.. ITU BARA!!!! KEJAAAARR!!! :p

Waaa.. Akhirnya setelah muter-muter di GPU Fest itu, kira-kira jam 11 lebih 27 menit saya berjumpa dengan Bara! Yeaayy! Haha.. Langsung aja saya panggil dia dan minta tanda tangannya untuk buku Cinta.-nya dan udah pasti minta foto dong! 😉

Dapet dua foto sama Bara >.<

Dapet dua foto sama Bara >.<

Ahh, akhirnya jam 3  juga, saya bersama kedua teman saya, langsung duduk di kursi paling depan di acara peluncuran buku ini. Sayangnya saya nggak dapat kesempatan untuk bertanya sama Bara dan nggak seberuntung salah satu fans yang bisa dinner bareng sama Bara! 😥 Tapi tapi tapi, saya ada di barisan paling depan saat book signing! Dan di situ juga saya masuk satu frame sama Bara saat ada reporter GPU yang mewawancarainya.. Yihiii.. 😉 Oke, selanjutnya saya minta tanda tangan dan minta foto lagi.. :p Setelah itu saya pulang dengan senyum nggak pernah hilang dari wajah saya yang udah kucel banget hari itu.. Haha..

Tanda tangan + quotes dari Bara buat saya ;p

Tanda tangan + quotes dari Bara buat saya ;p

Malamnya, saya langsung membaca si Surat untuk Ruth ini dan sepertinya sekarang kita mulai aja reviewnya karena saya tahu kalian ogah juga baca curhatan aktivitas saya. 😀

Yah. Surat untuk Ruth. Lima jempol deh! ;D Pertama kali mendengar spoiler bahwa novel ini dituliskan dengan konsep surat-surat yang ditujukan si Are untuk Ruth, mantan kekasihnya,entah kenapa saya langsung teringat pada novel P.S.: I Love You yang ditulis oleh Cecelia Ahern dan sudah diadaptasi ke film juga. yang membuat saya jadi teringat mungkin karena karakter laki-laki sama-sama meninggalkan pesan lewat surat buat kekasihnya. Konsep menulis dengan gaya surat ini unik banget, semula saya pikir Bara mau pakai POV orang kedua karena waktu saya baca sekilas, novel ini terkesan seperti itu, memakai ‘kamu’. Tetapi setelah saya baca lebih lanjut, ternyata nggak, ini memang konsepnya surat, and i love it! Ide yang jarang dan kapan-kapan boleh saya coba (pinjem ya, Bara.. hehehe 😉 ).

Hmm. Surat untuk Ruth ini adalah salah satu favorit saya dari tulisan-tulisan Bara lainnya. Jauh lebih rapi dan jauh lebih puitis. Pertama kali membaca bab pertamanya saya langsung merasa membutuhkan banyak oksigen di tempat saya membaca waktu itu (baca: nyesek banget!). Yang saya suka dari penulis ini (selain kece *plak*) adalah : semua tulisan yang dia buat nggak membuat saya menuntut perfection terhadap komponen-komponen penting novel, seperti seperti setting, alur, penokohan dan teman-temannya itu. Yang saya cari adalah suasananya, feel, dan rasa-rasa nyesek saat dan setelah membaca tulisan-tulisannya. Dan Bara sangat berhasil menciptakan suasana itu!

Di Surat untuk Ruth ini pun Bara berhasil menjungkir-balikkan saya (wuih!)sepanjang 165 lembar halamannya. Keinget mantan? Ya. Karena memang novel ini adalah tentang mantan kekasih yang begitu dicintai si karakter Are dan harus berpisah karena tidak memperoleh restu orang tua dan (alasan yang kedua saya sensor karena takut jadi spoiler, lebih baik baca aja sendiri :p). Bicara tentang halaman, menurut saya, BARA INI MASIH KURANG! Saya masih pengin merasakan sensasi-sensasi galau yang lebih dalam lagi, lebih nyesek lagi. Haha.

Sejauh ini, memang jujur, saya nggak menemukan ketidaknyamanan dalam membaca buku ini. Buku ini beneran saya rekomendasikan bagi para galauers dan mereka yang melankolis. Atau siapa aja deh, beneran ini buku recommended banget, readers! Heheh.. Pesan saya adalah, saat baca novel ini, siap-siap patah hati lagi, siap-siap keinget mantan lagi, siap-siap nyesek dan siap-siap kesel sama endingnya. Kalau kalian nggak merasakan hal-hal yang saya sebutkan di atas, yaaa… bilang sana sama Bara, jangan sama saya.. 😀

Well, sekian dulu deh review (suka-suka) ini. Semoga nggak menyesal udah mampir di blog saya, tulisan saya yang lain boleh banget loh dibaca. 😀

Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s